Cinta di Ufuk Barat……

12219402_179507739060690_6455163463068426165_n

“..Dan cinta tidak selalu hadir di ufuk timur..”

Kala itu mentari bersinar dengan semangatnya di ufuk timur, memancarkan sinarnya yang begitu hangat, kuat dan lembut. Tak ayal membangunkan burung kecil yang dengan lembut bernyanyi indah sangat merdu, membisikan kata- kata yang menyejukkan hati.

Ditengah lemahnya jiwa sang alam menunjukkan sisa baiknya pagi itu. Terasa sekali butiran embun menjamah raga, terasa sekali hembusannya mengalir dalam paru.

Sang Agung begitu sempurna memberikan hadiah ini untuk karyaNya.

Ufuk timur tidak pernah sekalipun keberatan dengan hadirnya mentari di sudut itu, beliau selalu memberikan sudut yang terbaik bagi mentari melakukan pahalanya. Tak lagi belia usia yang dicapainya, tak lagi besar dayanya, hanya ufuk barat yang setianya menunggunya. Sinarnya menyenandungkan kesejukan, teriknya menggerakan raga dan terbenamnya menggambarkan jerih.

Ufuk timur tidak pernah sekalipun keberatan dengan hadirnya mentari di sudut itu, beliau selalu memberikan sudut yang terbaik bagi mentari melakukan pahalanya. Tak lagi belia usia yang dicapainya, tak lagi besar dayanya, hanya ufuk barat yang setianya menunggunya. Sinarnya menyenandungkan kesejukan, teriknya menggerakan raga dan terbenamnya menggambarkan jerih.

Langit biru nan indah dihiasi awan pun kadang membelakanginya, bertolak untuk menghalang cahyanya. Menyerah bukan kata yang ada dalam dirinya, menyadari dan tahu cahyanya adalah hidup.

Di bawah cahyanya karyaNya berasmara, berjanji untuk hidup dalam gubuk jerih, seakan tahu bahwa besok sang mentari akan datang kembali untuk menyempurnakan kata selamanya yang dijanjikan.

Ya, sang Agung menganugrahi lagi karyaNya dengan hal indah, cinta. Memadukan rasa yang begitu banyak dalam jiwa, begitu rumit untuk dipahami indra dan hadiah yang terbaik untuk dirasa.

Menapaki   lintasan   perjalanan   merupakan   kesempatan   untuk   menemuinya, bertemu untuk menyelarasakan langkah, menyelaraskan janji untuk membangun sebuah bahtera yang kokoh.

Aku menamakannya dengan anugerah, ya! rasa yang pada saat bersamaan dapat kita rasakan. Tak jauh anganku merentang semesta, tak harus menantang Sang Kuasa yang agung. Dihadirkannya sesosok kesempatan untukku jiwa ini pun kembali sejuk. Asaku luber pada setiap sosok kesempatan anugerah yang hadir.

Perjalanan  yang  aku  lalui  tak  seorang  pun  mampu  memahami,  hanya  sesosok anugerah yang kuyakini menungguku di sana. Tidak mudah lintasanku, arungan yang aku lalui tak pelak dari aral untuk ku hadapi.

Serupa hal dengan mentari, didalam letihnya mengarungi hari, aku terus berjalan.

Aku tahu, cinta yang aku sebut anugerah tidak selalu hadir di ufuk timur. Aku menemukannya di ufuk barat. Sesosok anugerah yang aku temukan dan yang telah aku namai dengan cinta.

Beradu  hati  saling  mencinta,  beradu  hati  saling  mengasihi,  beradu  hati untuk menjaga, cinta lebih dari rasa.

Tak lagi belia usia mentari, tak lagi besar dayanya, hanya ufuk barat yang setianya menunggunya. Sinarnya menyenandungkan kesejukan, teriknya menggerakan raga dan terbenamnya menggambarkan jerih. Dan mentari menambatkannya di ufuk barat.. .

About Petrus Adi Susilo

Im a product of a GODs grace.. Mahasiswa Pendidikan Kimia angkatan 2009 @ Universitas Palangkaraya.

Posted on October 21, 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: