Membaca ternyata mengukur kebodohan kita

242

Mungkin banyak yang penasaran dengan judul yang saya tulis kali ini,”Membaca ternyata mengukur kebodohan kita”. Ya, apa yang anda baca di judul itu sama sekali tidak ada kesalahan dan tentunya juga anda tidak salah membaca, karena apabila anda membaca sampai kalimat ini anda memang sudah bisa membaca—terutama judul saya.

Kata membaca didasari oleh kata baca dan berimbuhan me-. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata baca atau membaca mempunyai arti melihat serta memahami isi dari apa yg tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Anda harus ingat, bahwa indra yang ada di dalam diri kita saling berinteraksi. Ketika indra penglihat kita melihat beberapa isi yang tertulis otak kita pun bekerja, apa yang kita lihat di tulisan itu (baca : baca) akan direspon dan diproses oleh otak kita, dan tentu saja apa yang kita baca (baca : lihat) akan otomatis tersimpan di memori kita.

Ketika membaca, memori di otak kita akan menulis apa yang kita baca, namun intensitasnya banyak ataupun sedikitnya tergantung ke individu masing-masing. Ya, banyak-sedikitnya yang kita ingat ketika membaca sangat berbeda kadarnya dengan orang lain. Mungkin anda dapat mengingat 80% dari apa yang anda baca, namun tentu tidak sama kadarnya dengan orang lain, mungkin mereka memiliki skor 60% atau lebih tinggi dari anda, entahlah.

Ketika memori kita menulis apa yang kita lihat pada bacaan dan menamakannya ‘mengingat’ tentu otak kita yang memprosesnya. Nah, proses kerja untuk mengingat bacaan yang anda baca atau yang anda lihat juga berbeda pada masing-masing orang. Proses otak untuk mengingat bacaan yang kita baca dinamakan ‘pemahaman’. Mungkin ini agak sedikit sulit untuk ditangkap, namun saya mencoba menjelaskannya kepada anda. Ketika kita membaca, memori akan menulis, sebelum memori menulis ada proses di mana otak kita akan ‘menandai’ suatu hal untuk kita ingat. Inilah yang dinamakan pemahaman. Dari sini lah kata mengerti dan paham tercipta.

 

Membaca bukan hanya perkara melihat, melafalkan, bahkan mengingat. Membaca harus dilengkapi dengan pemahaman. Secara ekstrim dapat saya katakan seperti ini,”lebih baik membaca dan memahaminya daripada mengingatnya”.

Tentu kita tahu, memahami hanya merupakan suatu proses ‘menandai’ untuk mengingat. Namun, sangat besar andilnya daripada kita hanya mengingat. Ya, memahami lebih penting daripada mengingat suatu bacaan. Kita tidak perlu bingung ketika menamakan satu senyawa dari beberapa unsur. Sebagai contoh NaCl, kita sudah memahami senyawa ini tersusun atas unsur logam dan nonlogam. Juga kita tidak perlu menghafal varian rumus dari  ; kita hanya perlu memahami rumus itu dengan cara mengganti angka pada dua hurufnya dan tentu akan mendapatkan varian rumusnya.  menjadi a = 2 x 3. Ketika anda hanya mengingat, maka tidak menutup kemungkinan anda akan lupa, namun ketika anda memahaminya, anda akan mengingatnya sepanjang masa.

Jadi sudah jelas, membaca tanpa memahami sama sekali tidak ada artinya. Banyak dikatakan bahwa dengan membaca maka kita akan mengetahui banyak hal yang mungkin belum kita ketahui, namun juga dapat saya katakan bahwa membaca sebenarnya mengukur seberapa bodohnya kita.

Anda akan memahami ini apabila memang anda suka membaca.

Iwan adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas ternama di daerahnya. Tentu saja tugas seorang mahasiswa akhir adalah membuat tugas akhir skripsi. Sejatinya Iwan adalah mahasiswa yang memiliki pengetahuan konsep sangat bagus di kampusnya. Ketika membuat tugas akhir skripsinya dia memilih salah satu kasus untuk dia teliti. Dia pun mulai menyiapkan bahan referensi dan langkah-langkah pra penelitian. Ketika dia membaca referensi-referensi yang berkaitan dengan kasus yang sedang dia jadikan topik skripsinya, Iwan menemukan beberapa hal baru.

Hal-hal baru yang dia temukan tentunya dia kaitkan dengan apa yang memang seharusnya berkaitan. Oleh karena seringnya dia menemukan hal baru dan mengaitkannya dengan fakta yang dia ketahui atau yang berada di sekitarnya dia bisa menemukan sesuatu yang sudah ada menjadi penemuan baru atau dapat dikatakan teori baru dari pemahamannya sendiri. Ya mungkin teori yang sudah ditemukan oleh orang-orang sebelumnya belum banyak dipahami banyak orang, dan apabila kita lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca dan memahaminya maka tentu tidak sulit bagi kita untuk membuat sesuatu yang sudah ada menjadi baru—versi kita.

Iwan tersadar bahwa hal-hal baru yang dia temukan itu secara tidak langsung mengatakan betapa bodohnya dia terlambat menyadarinya.

Ketika seseorang sudah sampai pada tahap ini, maka dia akan selalu mencari suatu hal yang dapat ia lihat hurufnya, dia baca, dan dia pahami.

About Petrus Adi Susilo

Im a product of a GODs grace.. Mahasiswa Pendidikan Kimia angkatan 2009 @ Universitas Palangkaraya.

Posted on June 17, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: