Kompas Pendidikan RI

Sejak empat tahun lalu, Eymus H Tabuni (26), memutuskan untuk memberikan pelatihan membaca dan menulis bagi warga di Kampung Milinik, Kelurahan Inikombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Keputusannya ini didasari keprihatinan tingginya angka buta aksara di wilayah itu. Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Budi Bakti, menjadi tempat Eymus mengabdi.
Kampung Milinik adalah sebuah kampung di pinggiran Distrik Sentani, sekitar 10 kilometer dari Bandara Sentani. Wilayah ini berpenduduk 700 jiwa dari 80 kepala keluarga. Mayoritas penduduk di kampung itu berasal dari daerah pegunungan di Wamena, dan hampir seluruhnya berprofesi sebagai petani dan peternak.

Eymus, lulusan Teknik Pertambangan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), menjadi tutor mengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), paket A, B, dan C sejak PKBM tersebut baru berdiri. Mereka yang belajar di tempat sederhana ini terdiri dari anak-anak, dewasa, bahkan orangtua. Ada yang putus sekolah, ada pula yang belum pernah mengecap bangku sekolah.

“Dong orang (mereka) kita tampung semua, untuk dapat ijazah paket A, B, dan C,” ujar Eymus, di Sentani, Jayapura, akhir pekan lalu.

Dalam proses belajar mengajar, setiap peserta didik dibedakan berdasarkan tingkat kemampuan baca tulisnya. Pengelompokan dilakukan untuk mempermudah penyampaian materi dan disesuaikan dengan talenta dan kebutuhan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Namun, sarana dan fasilitas yang serba terbatas (satu-satunya ruang belajar yang tersedia hanya mampu menampung tidak lebih dari sepuluh peserta didik) memaksa waktu belajar dibagi menjadi beberapa waktu secara bergantian. Untuk PAUD digelar dua kali dalam seminggu, kemudian paket A, B, dan C dilaksanakan setiap Senin sampai Jumat pada pagi dan sore hari.

”Kita membuat jadwal, tapi disesuaikan dengan kegiatan masyarakat. Kita berharap memiliki gedung yang permanen, artinya dapat menampung semua peserta didik,” harap Eymus.

Akan tetapi, proses jalannya kegiatan ini bukan tanpa kendala. Ada kendala gepgrafis, jarak yang jauh membuat banyak siswa terbentur dengan masalah transportasi. Hal ini ditambah pula dengan lemahnya kondisi ekonomi di wilayah tersebut, sheingga menciptakan dilematis tersendiri bagi para peserta didik, antara mengikuti kegiatan belajar mengajar atau mencari nafkah menghidupi keluarganya.

Honor Rp 300 ribu untuk 6 bulan

Para pengajar juga dihadapkan pada kenyataan rendahnya honor yang mereka terima. Akhirnya, ada pengajar yang kemudian “banting stir” untuk mencari profes dan penghasilan yang lebih baik.

Eymus mengungkapkan, setiap 6 bulan ia mendapatkan honor sebesar Rp 300 ribu dan beras 25 kilogram. Saat ini, peserta didik di PKBM Budi Bakti hampir mencapai 100 orang dan didominasi oleh para wanita yang berasal dari berbagai desa.

“Kami berharap diberikan honor setiap bulan agar kami bisa fokus saat mengajar dan tidak mengganggu kebutuhan rumah tangga,” ujar Eymus.

Eymus berharap, apa yang ia lakukan saat ini kelak berbuah manis. Harapannya sederhana: membuat warga di kampungnya lebih berwawasan, atau paling tidak menguasai baca tulis dan berhitung.

“Saya berharap kampung ini melek huruf, dan lima tahun ke depan mempunyai perubahan,” kata Eymus.

About Petrus Adi Susilo

Im a product of a GODs grace.. Mahasiswa Pendidikan Kimia angkatan 2009 @ Universitas Palangkaraya.

Posted on October 19, 2011, in Aktual. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: